Sebuah buku tulisan Amru Muhammad Khalid, al-Shobr wa al-Dzawq, diterjemahkan oleh Syarif Hade Masyah, diterbitkan "Serambi" dengan judul: Sabar dan Bahagia. Pada bagian awal buku ini Amru M Khalid menulis tiga jenis sabar.
1. Sabar menahan diri dari segala bentuk kemaksiatan
2. Sabar menghadapi musibah
3. Sabar dalam menjalani ketaatan.
Dalam tulisan ini ane bakal cerita tentang sabar yaitu bahwa sabar itu mempunyai tingkatan.
Kadang hidup itu seperti sebuah flowchart, rangkaian pilihan beruntun buat menyelesaikan segala persoalan yang harus dihadapi, maka dari rangkaian flowchart yang njelimet, rumit, kompleks, kita akan sedikit mengabaikan yang lain, dan membahas kesabaran.
seperti sebuah game, ada tingkatan/level dalam hal kesabaran.
al-Ankabut:1-2.:
Apakah mereka itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: "kami telah beriman" sedang mereka tidak diuji lagi?
Dalam flowchart seperti yang kita bicarakan, kesabaran kadang adalah pilihan, yaitu pilihan untuk bersabar atau sebaliknya. Pilihan yang kemudian berulang, lagi, lagi, lagi. Dimulai dengan pilihan mudah tentu saja, kemudianbertambah sulit, dan semakin sulit, tergantung di level mana kita berada.
Pada level awal, ini adalah pilihan mudah. Sebuah pilihan buat kita, buat bersabar, atau begitu saja mengikuti ego yang tergesa, setan yang tergesa.
bersabar atau tidak pada level ini, kita akan berangkat pada level berikutnya: lebih berat.
Kesabaran kita pada level sebelumnya akan memudahkan kita buat tetap bersabar pada level ini (meski tentunya tetap ada pilihan untuk berhenti bersabar).
Namun jika pada awalnya kita sudah tidak bersabar, maka akan ada kecenderungan untuk tidak juga bersabar pada level ini (meski tetap saja kita punya kesempatan untuk lebih bersabar).
Artinya apa yang kita lakukan kemarin akan berpengaruh hari ini, dan apa yang kita lakukan hari ini akn berpengaruh untuk besok.
proses itu mungkin akan berulang, lagi, lagi, mungkin lagi.
Bahan uji kesabaran itu tentu sangat variatif. Banyak sekali jenisnya. Tapi kita bisa bagi jadi 2 kelompok besar, yaitu kemudahan dan kesulitan. Keduanya sungguh sangat akurat hasil ujinya.
Kita bisa saja tidak bersabar dari awalnya, berulang demikian, berulang lagi demikian. Sungguh, dalam rentang waktu itu kita punya pilihan, kesempatan untuk memperbaikinya, belajar bersabar.
Kita juga bisa memilih bersabar sejak awalnya, berulang demikian, bertahan tetap demikian. Sungguh, dalam rentang waktu itu kita harus tetap belajar bersabar, dan sungguh, dalam rentang waktu itu kita bisa saja menjadi tidak sabar, lupa bersabar, atau merasa tak lagi mampu bersabar.
apapun pilihan kita, kesemuanya akan ada hasilnya, karena apa yang kita putuskan hari ini, akan membawa pengaruh esok hari.
"Tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan RasulNya tela menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, kesesatan yang nyata." (Al-Ahzab:36)
Lalu sampai kapankah rangkaian pilihan ini? Pada akhirnya kita akan sampai pada Final level. Di mana?
level-level itu Akhirnya akan membawa kita pada sebuah kondisi, di mana seakan kita sudah tak punya pilihan lagi. Kita bukan ditawari menentukan sebuah pilihan, melainkan dipaksa memasuki sebuah kondisi, seakan tanpa pilihan. Sebenarnya kita masih saja punya pilihan untuk bersabar atau sebaliknya.
Pada akhirnya kita akan memasuki sebuah area: End of levels, di sini kita benar-benar tidak punya pilihan. Di sini adalah hasil dari pilihan dan keputusan yang kita bikin di level-level sebelumnya. inilah Yaumuddiin.
Maka kapan kita akan belajar bersabar? itupun pilihan buat kita. Kita bisa memilih untuk tidak pernah memulainya, melewati final level, dan sampai pada the end of level dalam kondisi itu. Kita juga bisa memilih untuk segera memulainya, terus bertahan, menggenggam sunnah meski seperti bara di jemari, menggigitnya dengan geraham, dan tiba di The End Of Levels.
Nabi Syuaib pernah bicara pada kaumnya:
"Dan wahai kaumku! Berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat(pula)...
...
Dan tunggulah! sesungguhnya aku bersamamu adalah orang-orang yang menunggu. (QS. Hud:93)
Semoga bermanfaat.
bila kata memilih sunyi, mata menari mengikuti baris-baris makna.
Sabtu, 16 Mei 2009
Senin, 11 Mei 2009
bab23, menggantikan bapak menggetah di hutan.
Tersentak, ternyata jam 2 malam. Setetes bening dari sela rumbia tersusun padat menterkejutkan lelapku tiba-tiba. Deraskah?
Tidak, inilah embun, yang telah menunggu, inilah embun, yang bertemu, melewati padat ikat rumbia pada bambu bersusun.
Bertemu menjadi bulir bening jatuh tepat di sisi daun telingaku, kemudian menyentuh papan kayu bersusun alas tidurku.
Terus pada papan lain yang tak lebih halus, lantai. Terakhir menggumuli tanah sebelum kemudian tenggelam ke dalamnya.
Aku mengintip benderang dari sela bambu beranyam dinding bilik. purnama sempurna.
kilau teduh itu mengitari tepian rinduku, pada sebait senyum pada halaman lain, di buku yang lain.
Duduk, aku yakin tak dapat mengulang lelap yang begitu mahal untukku. jangkrik, denging sayap nyamuk.
Kunyalai lampu minyak dari kaleng susu bersumbu karung terigu. Temaram, asap mengepul.
Kutiup cahaya itu hingga padam. kupilih benderang di luar. purnama...
Awan, menghitam di sudutnya hendak menyentuh tepian bibir purnama. tak bisa!!!
Kukenakan jaket dan sepatu berujung besi melompat mencari jalan setapak.
sisa kantuk yang tak sempat kuselesaikan kubawa serta.
membelah belantara gelapnya, mencari entah.
Kubelah belantara kala dingin masih mampu menembus jaket yang kukenakan, terecap di tulang pasi-kan telapak tanganku, ujung jarinya mengkerut, mulai basah oleh embun di dedaun semak belukar. Purnama sempurna melekat di langit cerah, gemintang kemerlip menyusun galaksi masing-masing, gumpalan mendung kecil-kecil sentiasa menjaga jaraknya dari lingkaran sempurna rembulan purnama, menjadi lukisan.
Aku terjerembab, ujung besi sepatu di kakiku bertemu akar-akar yang meninggi dari tanah.
Lihat ke bawah!!!
Sama saja, sempurna purnama benderangnya bukan cukup menerangi setapak berliku ini.
Tapi janji, aku tak akn tercebur ke kali di sisi kananku, sebab di situ purnama berderai menjadi serpih yang menari.
Di seberang kunang-kunang berpuluh jumlahnya berpendar, terbang bergetar cahayanya, kalau begitu aku mencari cahaya, tak jauh di seberang kali kecil ini.
Aku melangkah di atas titi (jembatan), kemudian menjauh dari kali, menembus rimbun pepohon getah di kiri-kanan langkahku. Kian gulita, cahaya dari langit tak mampu tembus daun-daun rerindang menyampul bumi. Tapi tak lama, karena kemudian kulihat cahaya. Aku mendekatinya langkah demi langkah, makin lamban ayun kaki dalam gelap ini.
Cahaya itu kian terang, kulihat kemudian, jalan raya, tepat di seberangnya adalah hentian, bisa kau lihat, rumah makan, kedai kopi, mushola, dan lain-lain. Maka selesai sudah kuseberangi belantara hutan getah barusan, tak jauh ke tempat ini, tak sulit perjalanan ini, aku hanya harus menembus belantara hutan getah yang gelap, itu saja. Lebih jauh jika aku harus pulang, melintas terjal dakian dan turunan, hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, dan butuh beberapa jam untuk sampai ke rumah bapak. karenanya aku tak pulang, menginap di hutan, membawa bekal untuk seminggu, tak bertemu siapa-siapa, tak bicara dengan siapa-siapa, tepat seperti inginku.
Tapi malam ini aku telah di sini, duduk memesan segelas susu hangat, pemilik menawarkan kopi, sayang aku tak suka kopi.
Dua buah bus berhenti di depan rumah makan, sementara di tempat yang lebih ke tepi ada 3 truk gandeng parkir berjajar.
Pemilik warung menyodorkan gelas penuh berisi padaku. Aku duduk bersandar di tiang menghadap ke salah satu bus. Dari pintu yang terbuka kulihat seorang perempuan, berjilbab, membuka sekotak nasi, meletakkan sebotol air di samping duduknya, jilba itu biru terang warnanya.
Ah, aku begitu rindu dari jauh memandangi jilbab-jilbab yang menjanjikan penjagaan. Hijab untuk hati yang setiap detiknya adalah cemas, setiap hela nafasnya adalah rasa takut. penjagaan dari tajamnya mata-mata yang liar, hati yang di dalamnya ada penyakit.
tiba-tiba ni begitu menyakitkan, tak hendak berlama-lama dengan rasa tidak nyaman itu aku pun berpaling, mengisi penuh-penuh fikiranku dengan segelas susu hangat, rupanya pemilik warung mencelupkan sekantong teh kedalamnya.
Aku berbaring di bangku panjang, menghitung bintang, sementara telinga mendengar percakapan-percakapan yang tak penting, mataku mulai berat, letih, aku terlelap.
Mimpi merayap menyergap aku dalam gelap. aku berdiri sendiri mendengar bisik semilir menawarkan tarian aurora di ufuk sana. seekor naga muncul entah dari mana. Meliuk, merendah di hadapanku, seakan menawariku tumpangan buat terbang bersama. aku begitu saja bergelayut di lehernya.
"Aku akn di sini sejenak, Anak muda..."
"Tak bisakah aku ikut denganmu saja?"
Sang naga diam, terbangnya kian tinggi melewati gumpalan mendung, kulihat bias cahaya dari timur, cahaya keemasan! Nag meliuk berputar dan aku....
Terlepas, aku tak lagi bersama sang naga, jatuh sendiri, melewati gumpalan mendung, terus turun. Aku pasti mati pikirku, wajahku terasa kebas, tanah terhampar siap menanti jatuhku, itulah tempat kembali tubuhku, tempat kembali wujud asalku, baru kusadari.
aku terpejam, tiba-tiba tubuhku terasa kembali melayang, perlahan kubuka mata, naga itu telah menangkap tubuhku, mendudukkan aku di lehernya, dan terbang merendah.
"Kau pilih bermimpi, Kau akan terjaga. Kau pilih terbang, Kau mungkin terjatuh. Kau pilih bersamaku, Kau harus siap dengan segala kemungkinanku. Maksudku kemungkinanmu sendiri."(diadaptasi dari Cala Ibi, sebuah novel)
Sang naga masih diam, memberi pilihan padaku untuk turun.
"Aku tak peduli!!!!" pikirku, aku berpegang lebih kuat. Maka ia kembali naik ke angkasa, membawaku terbang di atas sungai, gunung, hutan, persawahan.
Hingga kami (aku dan sang naga) sampai di sebuah pemukiman yang benderang, di tengah-tengah pemukiman itu ada sebuah tanah lapang, Obor bambu di sana sini menerangi tiap sudutnya. ramai orang berkumpul mengelilingi unggun besar. di lingkaran terdekat, anak-anak menari, di sekelilingnya anak-anak yang lain menabuh rebana, mereka mendendangkan sholaewat, riuh sangat. Aku terpana di atas leher sang naga yang tak begitu peduli dengan keramaian ini. Sang naga sengaja membiarkan aku menikmati ini, hingga semua anak-anak itu berhenti menari dan bersholawat.
Lamat-lamat ku dengarsuara, semua tertunduk. suara itu melantunkan kalimat-kalimat indah, terus mengalun, memicu haru hingga ketika suara itu terhanti, seorang bertubuh kekar membawa sebuah bedug ke tepian lingkaran. AKu mulai mengantuk, bergelayut manja(bolehlah^_^) di leher sang naga hinga pukulan pertama berdentum, disusul pukulan kedua dan seterusnya, kurasakan mataku kian berat. kusandarkan tubuh dan wajahku di kulit leher naga yang hangat. Sang naga beranjak perlahan, semilir menerpa wajahku, kantuk kian menyerang. Aku berpegang sekuat yang kumampu.
Dua takbir bersambung mengejutkanku, jantung berdegub keras sekali, aku terbelalak, tapi tetap saja gelap.
Dua takbir bersambung sekali lagi membahana, aku terjaga. Aku duduk, kini hanya aku dan pemilik warung, azan berlanjut. Kuserahkan lembar uang padanya.
"menurut Mas, ap naga itu benar-benar pernah ada?" aku terkejut ditanyai begitu.
"Naga?" aku balik bertanya.
"Iya, tadi ada dua sopir di sini yang bicara soal naga, seakan-akan naga itu benar-benar ada." ucapnya sambil menyodorkan kembalian padaku.
Aku tersenyum, menolak kembalian itu dan mengambil sebungkus nagasari di atas meja.
Aku mengacungkan bungkusan nagasari itu sambil tersenyum padanya, berharap itu bisa jadi jawaban.
Aku bergegas menuju musholla.
Ada yang menarik ketika aku hendak menambil air wudlu, sebuah bedug dari kayu randu dan kulit sapi berwarna coklat terang, menggantung di teras mushola, aku memandanginya sesaat, kemudian mengambil wudlu untuk melaksanakan subuh bersama jemaah yang lain.
Bedug itu mengingatkan aku pada bulan puasa yang selalu indah dalam ingatanku. Pertanda berbuka...
***
Usai subuh aku masih duduk menepi dari sajadah yang membatasi dudukku dari lantai. Meresapi dingin lantai mushala lewat betis, juga dua telapak tangan yang menopangku dari belakang. Jemaah habis meninggalkan mushala, tinggal aku sendiri dan imam sholat yang sibuk bertilawah.
Aku duduk, sendiri, tidak berpikir, tidak berdzikir. Cahaya semburat mulai mengintip perlahan, sang imam menyudahi tilawahnya, membunyikan Tape recorder yang dikeraskan dengan Toa, corong ajaib.
Sholawat pun mulai meriah di dendangkan anak-anak diiringi tabuhan rebana, aku mulai memahami perjalananku bersama sang naga.
Cahaya perlahan bertambah kadarnya mencampuri pandanganku, seakan memintaku menjelaskan perjalanan ini, aku telah disini, hampir tanpa alasan.
Berlari ke hutan, kemudian berlari dari hutan. Bukan begini mestinya...
(belum selesai)
Tidak, inilah embun, yang telah menunggu, inilah embun, yang bertemu, melewati padat ikat rumbia pada bambu bersusun.
Bertemu menjadi bulir bening jatuh tepat di sisi daun telingaku, kemudian menyentuh papan kayu bersusun alas tidurku.
Terus pada papan lain yang tak lebih halus, lantai. Terakhir menggumuli tanah sebelum kemudian tenggelam ke dalamnya.
Aku mengintip benderang dari sela bambu beranyam dinding bilik. purnama sempurna.
kilau teduh itu mengitari tepian rinduku, pada sebait senyum pada halaman lain, di buku yang lain.
Duduk, aku yakin tak dapat mengulang lelap yang begitu mahal untukku. jangkrik, denging sayap nyamuk.
Kunyalai lampu minyak dari kaleng susu bersumbu karung terigu. Temaram, asap mengepul.
Kutiup cahaya itu hingga padam. kupilih benderang di luar. purnama...
Awan, menghitam di sudutnya hendak menyentuh tepian bibir purnama. tak bisa!!!
Kukenakan jaket dan sepatu berujung besi melompat mencari jalan setapak.
sisa kantuk yang tak sempat kuselesaikan kubawa serta.
membelah belantara gelapnya, mencari entah.
Kubelah belantara kala dingin masih mampu menembus jaket yang kukenakan, terecap di tulang pasi-kan telapak tanganku, ujung jarinya mengkerut, mulai basah oleh embun di dedaun semak belukar. Purnama sempurna melekat di langit cerah, gemintang kemerlip menyusun galaksi masing-masing, gumpalan mendung kecil-kecil sentiasa menjaga jaraknya dari lingkaran sempurna rembulan purnama, menjadi lukisan.
Aku terjerembab, ujung besi sepatu di kakiku bertemu akar-akar yang meninggi dari tanah.
Lihat ke bawah!!!
Sama saja, sempurna purnama benderangnya bukan cukup menerangi setapak berliku ini.
Tapi janji, aku tak akn tercebur ke kali di sisi kananku, sebab di situ purnama berderai menjadi serpih yang menari.
Di seberang kunang-kunang berpuluh jumlahnya berpendar, terbang bergetar cahayanya, kalau begitu aku mencari cahaya, tak jauh di seberang kali kecil ini.
Aku melangkah di atas titi (jembatan), kemudian menjauh dari kali, menembus rimbun pepohon getah di kiri-kanan langkahku. Kian gulita, cahaya dari langit tak mampu tembus daun-daun rerindang menyampul bumi. Tapi tak lama, karena kemudian kulihat cahaya. Aku mendekatinya langkah demi langkah, makin lamban ayun kaki dalam gelap ini.
Cahaya itu kian terang, kulihat kemudian, jalan raya, tepat di seberangnya adalah hentian, bisa kau lihat, rumah makan, kedai kopi, mushola, dan lain-lain. Maka selesai sudah kuseberangi belantara hutan getah barusan, tak jauh ke tempat ini, tak sulit perjalanan ini, aku hanya harus menembus belantara hutan getah yang gelap, itu saja. Lebih jauh jika aku harus pulang, melintas terjal dakian dan turunan, hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, dan butuh beberapa jam untuk sampai ke rumah bapak. karenanya aku tak pulang, menginap di hutan, membawa bekal untuk seminggu, tak bertemu siapa-siapa, tak bicara dengan siapa-siapa, tepat seperti inginku.
Tapi malam ini aku telah di sini, duduk memesan segelas susu hangat, pemilik menawarkan kopi, sayang aku tak suka kopi.
Dua buah bus berhenti di depan rumah makan, sementara di tempat yang lebih ke tepi ada 3 truk gandeng parkir berjajar.
Pemilik warung menyodorkan gelas penuh berisi padaku. Aku duduk bersandar di tiang menghadap ke salah satu bus. Dari pintu yang terbuka kulihat seorang perempuan, berjilbab, membuka sekotak nasi, meletakkan sebotol air di samping duduknya, jilba itu biru terang warnanya.
Ah, aku begitu rindu dari jauh memandangi jilbab-jilbab yang menjanjikan penjagaan. Hijab untuk hati yang setiap detiknya adalah cemas, setiap hela nafasnya adalah rasa takut. penjagaan dari tajamnya mata-mata yang liar, hati yang di dalamnya ada penyakit.
tiba-tiba ni begitu menyakitkan, tak hendak berlama-lama dengan rasa tidak nyaman itu aku pun berpaling, mengisi penuh-penuh fikiranku dengan segelas susu hangat, rupanya pemilik warung mencelupkan sekantong teh kedalamnya.
Aku berbaring di bangku panjang, menghitung bintang, sementara telinga mendengar percakapan-percakapan yang tak penting, mataku mulai berat, letih, aku terlelap.
Mimpi merayap menyergap aku dalam gelap. aku berdiri sendiri mendengar bisik semilir menawarkan tarian aurora di ufuk sana. seekor naga muncul entah dari mana. Meliuk, merendah di hadapanku, seakan menawariku tumpangan buat terbang bersama. aku begitu saja bergelayut di lehernya.
"Aku akn di sini sejenak, Anak muda..."
"Tak bisakah aku ikut denganmu saja?"
Sang naga diam, terbangnya kian tinggi melewati gumpalan mendung, kulihat bias cahaya dari timur, cahaya keemasan! Nag meliuk berputar dan aku....
Terlepas, aku tak lagi bersama sang naga, jatuh sendiri, melewati gumpalan mendung, terus turun. Aku pasti mati pikirku, wajahku terasa kebas, tanah terhampar siap menanti jatuhku, itulah tempat kembali tubuhku, tempat kembali wujud asalku, baru kusadari.
aku terpejam, tiba-tiba tubuhku terasa kembali melayang, perlahan kubuka mata, naga itu telah menangkap tubuhku, mendudukkan aku di lehernya, dan terbang merendah.
"Kau pilih bermimpi, Kau akan terjaga. Kau pilih terbang, Kau mungkin terjatuh. Kau pilih bersamaku, Kau harus siap dengan segala kemungkinanku. Maksudku kemungkinanmu sendiri."(diadaptasi dari Cala Ibi, sebuah novel)
Sang naga masih diam, memberi pilihan padaku untuk turun.
"Aku tak peduli!!!!" pikirku, aku berpegang lebih kuat. Maka ia kembali naik ke angkasa, membawaku terbang di atas sungai, gunung, hutan, persawahan.
Hingga kami (aku dan sang naga) sampai di sebuah pemukiman yang benderang, di tengah-tengah pemukiman itu ada sebuah tanah lapang, Obor bambu di sana sini menerangi tiap sudutnya. ramai orang berkumpul mengelilingi unggun besar. di lingkaran terdekat, anak-anak menari, di sekelilingnya anak-anak yang lain menabuh rebana, mereka mendendangkan sholaewat, riuh sangat. Aku terpana di atas leher sang naga yang tak begitu peduli dengan keramaian ini. Sang naga sengaja membiarkan aku menikmati ini, hingga semua anak-anak itu berhenti menari dan bersholawat.
Lamat-lamat ku dengarsuara, semua tertunduk. suara itu melantunkan kalimat-kalimat indah, terus mengalun, memicu haru hingga ketika suara itu terhanti, seorang bertubuh kekar membawa sebuah bedug ke tepian lingkaran. AKu mulai mengantuk, bergelayut manja(bolehlah^_^) di leher sang naga hinga pukulan pertama berdentum, disusul pukulan kedua dan seterusnya, kurasakan mataku kian berat. kusandarkan tubuh dan wajahku di kulit leher naga yang hangat. Sang naga beranjak perlahan, semilir menerpa wajahku, kantuk kian menyerang. Aku berpegang sekuat yang kumampu.
Dua takbir bersambung mengejutkanku, jantung berdegub keras sekali, aku terbelalak, tapi tetap saja gelap.
Dua takbir bersambung sekali lagi membahana, aku terjaga. Aku duduk, kini hanya aku dan pemilik warung, azan berlanjut. Kuserahkan lembar uang padanya.
"menurut Mas, ap naga itu benar-benar pernah ada?" aku terkejut ditanyai begitu.
"Naga?" aku balik bertanya.
"Iya, tadi ada dua sopir di sini yang bicara soal naga, seakan-akan naga itu benar-benar ada." ucapnya sambil menyodorkan kembalian padaku.
Aku tersenyum, menolak kembalian itu dan mengambil sebungkus nagasari di atas meja.
Aku mengacungkan bungkusan nagasari itu sambil tersenyum padanya, berharap itu bisa jadi jawaban.
Aku bergegas menuju musholla.
Ada yang menarik ketika aku hendak menambil air wudlu, sebuah bedug dari kayu randu dan kulit sapi berwarna coklat terang, menggantung di teras mushola, aku memandanginya sesaat, kemudian mengambil wudlu untuk melaksanakan subuh bersama jemaah yang lain.
Bedug itu mengingatkan aku pada bulan puasa yang selalu indah dalam ingatanku. Pertanda berbuka...
***
Usai subuh aku masih duduk menepi dari sajadah yang membatasi dudukku dari lantai. Meresapi dingin lantai mushala lewat betis, juga dua telapak tangan yang menopangku dari belakang. Jemaah habis meninggalkan mushala, tinggal aku sendiri dan imam sholat yang sibuk bertilawah.
Aku duduk, sendiri, tidak berpikir, tidak berdzikir. Cahaya semburat mulai mengintip perlahan, sang imam menyudahi tilawahnya, membunyikan Tape recorder yang dikeraskan dengan Toa, corong ajaib.
Sholawat pun mulai meriah di dendangkan anak-anak diiringi tabuhan rebana, aku mulai memahami perjalananku bersama sang naga.
Cahaya perlahan bertambah kadarnya mencampuri pandanganku, seakan memintaku menjelaskan perjalanan ini, aku telah disini, hampir tanpa alasan.
Berlari ke hutan, kemudian berlari dari hutan. Bukan begini mestinya...
(belum selesai)
Jumat, 08 Mei 2009
tat tit tut
sementara kau disibukkan dering telepon,
bunga-bunga di teras mengering.
lihat, dinding kamar ini retak,
oleh isak sedu dari ujung kawat.
mengait jantung-jantung yang hampir tak berdenyut.
sementara jasad-jasad terkapar,
dengan mata terbelalak.
menatap air mata yang menetes.
di sudut bibir yang tengah tersenyum.
atas kesedihan yang tak tersampul.
bunga-bunga di teras mengering.
lihat, dinding kamar ini retak,
oleh isak sedu dari ujung kawat.
mengait jantung-jantung yang hampir tak berdenyut.
sementara jasad-jasad terkapar,
dengan mata terbelalak.
menatap air mata yang menetes.
di sudut bibir yang tengah tersenyum.
atas kesedihan yang tak tersampul.
Senin, 27 April 2009
Sabtu, 25 April 2009
The Gate: masuk ke dalam kebahagiaan
Ngacak-acak kertas-kertas usang, ane dapat secarik catatan,:
Kebahagiaan itu tak berpintu, tak berdinding, & tak dibatasi sekat-sekat. Kita tak memerlukan ukiran-ukiran yang rumit untuk dapat hadir di dalamnya.
Kalimat itu sunguh bisa ane terima, jika saja kemudian ane tidak mencelupkannya kedalam gelas kimia, karena sekejap kemudian ane mendapati pelangi, sejurus kemudian, ane mencium wangi. Sungguh, ane ingin segera meminumnya, menelan kalimat itu tanpa ampun. Hingga kemudian ada pertanyaan, halal, haram? Karena Kebahagiaan yang tertulis dalam kalimat itu belum mampu memisahkan keduanya.
Benar saja, ane kamudian begitu tertarik pada satu unsur yang begitu mendominasi di dalamnya. Barangkali lebih mudah mempelajarinya jika unsur ini ane pisahkan.
Unsur itu adalah: kesenangan.
Sungguh tidak mudah memisahkan kesenangan dari kebahagiaan, Kawan.
Maka kita mulai saja penelitian ini, hehe.
Kita ambil sedikit sample: kebahagiaan.
Kita akan melakukan filtrasi, memisahkan kebahagiaan dari kesenangan, tapi tentu belum tuntas, karena kesenangan adalah bagian terbesar dan paling kuat terikat dalam kebahagiaan.
Penyulingan,
Fermentasi, (jangan ding, ntar ente bisa teler)
Melewati pipa kapiler dan proses yang rumit sangat, akhirnya kita bisa memisahkan kebahagiaan dari kesenangan. Ternyata kebahagiaan sangat sedikit saja sisanya tanpa kesenangan, Mak!!! Tapi cukuplah buat tes labor selanjutnya. (mulai rontok rambut ane...) ^_^
Inilah, kebahagiaan tanpa kesenangan, ane hampir kehilangan minat ane buatmelanjutkan penelitian ini, tapi tunggu, inilah inti dari rahasia kebenaran kalimat itu, ane harus temukan, ane tidak ingin kehilangan begitu saja keyakinan dan keinginan ane buat menelannya penuh syukur.
Subhanallah, unsur-unsur ajaib ini?
Tanpa unsur ini, kesenangan hanya akan bertahan beberapa menit, ternyata.
Tanpa unsur ini, kesenangan adalah racun yang sangat berbahaya, ternyata.
Tanpa unsur ini, kesenangan bisa merusak susunan DNA kita! merubah tingkah polah, perilaku kita. Mengganggu kesehatan fisik, mental dan spiritual kita nyaris tanpa kita sadari.
Tanpa unsur ini, sungguh kesenangan tidak akan menjadi kebahagiaan.
Unsur-unsur ajaib, unsur-unsur yang sangat populer, sejak empatbelas-ratusan tahun yang silam. Ane campur-campur unsur-unsur ini dengan komposisi yang berbeda-beda, akhirnya ane dapat beberapa senyawa, campuran, senyawa campuran.
Apa jadinya? Es teler? Tentu saja bukan.
Ane dapat beberapa nama untuk hasil penelitian singkat ini. Dan untuk ente, kita konversikan dan kita kaitkan saja dengan kalimat indah di atas: kebahagiaan itu...
Kebahagiaan itu tak berpintu, tak berdinding, & tak dibatasi sekat-sekat. Kita tak memerlukan ukiran-ukiran yang rumit untuk dapat hadir di dalamnya.
Kebahagiaan, kedalamnya Kau bisa hadir dari mana saja, kapan saja Kau suka, bahkan kadang Kau tak perlu masuk untuk dapat hadir di dalamnya.
Maka Kau boleh terlempar keluar lewat mana saja, kapan saja, tanpa Kau duga, bahkan kadang tiba-tiba Kau sudah begitu saja tidak lagi di dalamnya.
Kutawarkan untukmu sebuah ruang, tiang, dinding, atap, sekat-sekat untuk bilik, pintu, dan ukiran yang indah, tidak rumit, Sayang. Ukiran itu, adalah kesabaran.
Akhirnya , ane harus mengawetkan hasil penelitian ini, bikin result list-nya, kemudian menempel label semana ane suka. karena unsur-unsur, senyawa, campuran, senyawa campuran itu sebenarnya telah di populerkan semenjak empatbelas-ratusan tahun yang silam.
Ane menulis besar besar labelnya; beberapa kata:
Ruang, tiang, dinding, atap, sekat, pintu, ukiran.
Bagaimana dengan pondasi?
Tentu saja, ada banyak hal lain yang dibutuhkan buat melengkapi kebahagiaan itu, yang sangat dibutuhkan, atau tidak terlalu dibutuhkan.
dan ukiran itu adalah kesabaran
Kebahagiaan itu tak berpintu, tak berdinding, & tak dibatasi sekat-sekat. Kita tak memerlukan ukiran-ukiran yang rumit untuk dapat hadir di dalamnya.
Kalimat itu sunguh bisa ane terima, jika saja kemudian ane tidak mencelupkannya kedalam gelas kimia, karena sekejap kemudian ane mendapati pelangi, sejurus kemudian, ane mencium wangi. Sungguh, ane ingin segera meminumnya, menelan kalimat itu tanpa ampun. Hingga kemudian ada pertanyaan, halal, haram? Karena Kebahagiaan yang tertulis dalam kalimat itu belum mampu memisahkan keduanya.
Benar saja, ane kamudian begitu tertarik pada satu unsur yang begitu mendominasi di dalamnya. Barangkali lebih mudah mempelajarinya jika unsur ini ane pisahkan.
Unsur itu adalah: kesenangan.
Sungguh tidak mudah memisahkan kesenangan dari kebahagiaan, Kawan.
Maka kita mulai saja penelitian ini, hehe.
Kita ambil sedikit sample: kebahagiaan.
Kita akan melakukan filtrasi, memisahkan kebahagiaan dari kesenangan, tapi tentu belum tuntas, karena kesenangan adalah bagian terbesar dan paling kuat terikat dalam kebahagiaan.
Penyulingan,
Fermentasi, (jangan ding, ntar ente bisa teler)
Melewati pipa kapiler dan proses yang rumit sangat, akhirnya kita bisa memisahkan kebahagiaan dari kesenangan. Ternyata kebahagiaan sangat sedikit saja sisanya tanpa kesenangan, Mak!!! Tapi cukuplah buat tes labor selanjutnya. (mulai rontok rambut ane...) ^_^
Inilah, kebahagiaan tanpa kesenangan, ane hampir kehilangan minat ane buatmelanjutkan penelitian ini, tapi tunggu, inilah inti dari rahasia kebenaran kalimat itu, ane harus temukan, ane tidak ingin kehilangan begitu saja keyakinan dan keinginan ane buat menelannya penuh syukur.
Subhanallah, unsur-unsur ajaib ini?
Tanpa unsur ini, kesenangan hanya akan bertahan beberapa menit, ternyata.
Tanpa unsur ini, kesenangan adalah racun yang sangat berbahaya, ternyata.
Tanpa unsur ini, kesenangan bisa merusak susunan DNA kita! merubah tingkah polah, perilaku kita. Mengganggu kesehatan fisik, mental dan spiritual kita nyaris tanpa kita sadari.
Tanpa unsur ini, sungguh kesenangan tidak akan menjadi kebahagiaan.
Unsur-unsur ajaib, unsur-unsur yang sangat populer, sejak empatbelas-ratusan tahun yang silam. Ane campur-campur unsur-unsur ini dengan komposisi yang berbeda-beda, akhirnya ane dapat beberapa senyawa, campuran, senyawa campuran.
Apa jadinya? Es teler? Tentu saja bukan.
Ane dapat beberapa nama untuk hasil penelitian singkat ini. Dan untuk ente, kita konversikan dan kita kaitkan saja dengan kalimat indah di atas: kebahagiaan itu...
Kebahagiaan itu tak berpintu, tak berdinding, & tak dibatasi sekat-sekat. Kita tak memerlukan ukiran-ukiran yang rumit untuk dapat hadir di dalamnya.
Kebahagiaan, kedalamnya Kau bisa hadir dari mana saja, kapan saja Kau suka, bahkan kadang Kau tak perlu masuk untuk dapat hadir di dalamnya.
Maka Kau boleh terlempar keluar lewat mana saja, kapan saja, tanpa Kau duga, bahkan kadang tiba-tiba Kau sudah begitu saja tidak lagi di dalamnya.
Kutawarkan untukmu sebuah ruang, tiang, dinding, atap, sekat-sekat untuk bilik, pintu, dan ukiran yang indah, tidak rumit, Sayang. Ukiran itu, adalah kesabaran.
Akhirnya , ane harus mengawetkan hasil penelitian ini, bikin result list-nya, kemudian menempel label semana ane suka. karena unsur-unsur, senyawa, campuran, senyawa campuran itu sebenarnya telah di populerkan semenjak empatbelas-ratusan tahun yang silam.
Ane menulis besar besar labelnya; beberapa kata:
Ruang, tiang, dinding, atap, sekat, pintu, ukiran.
Bagaimana dengan pondasi?
Tentu saja, ada banyak hal lain yang dibutuhkan buat melengkapi kebahagiaan itu, yang sangat dibutuhkan, atau tidak terlalu dibutuhkan.
Rabu, 22 April 2009
Door Duisternis Tot Licht
judul yang aneh, judul asli dari terjemahan Armijn pane: habis gelap terbitlah terang.
kumpulan surat-surat RA Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Sono.
ane sendiri belum pernah baca ini buku, ane tertarik saja pada judul ini: "Habis gelap terbitlah terang"
ya, sebuah rahasia, kalimat ini madalah sebuah rahasia tentang keindahan, kenikmatan, yang dapat kita resapi hampir setiap saat, kalimat ini laku begitu keras dalam hampir setiap fase kehidupan yang kita jalani ternyata.
barang kali setiap kita pernah merasakan sakit, pahit, sulit, gerah, kepala sakit, hati dingin, perut mual.
ketika pembuluh darah di belakang kepala terasa begitu tebalnya, ketika jantung serasa memompa cairan lain, empedukah? bukan, tapi hanya pahit yang terasa.
maka sungguh setiap kesulitan itu akan disusul kemudahan, pahit akan berganti manis, gelap di susul terang.
nggak percaya?
“Allah akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (Al-Thalaq: 7).
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”(Al-Insyirah: 5-6).
“Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat.” (Alhijr: 56).
jika anda masih hendak ngeyel misalnya dengan bertanya: "kapan?" atau anda begitu lelahnya dengan kesulitan-kesulitan itu, kemudian protes, anda tahu siapa yang anda protes itu. tapi sungguh, hanya sabar yang kita butuhkan buat menyambut cahaya, kemudahan dan rasa manis itu. mutlak.
sabar buat nrimo, sabar menahan diri, dan sabar untuk tetap berbuat.
Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS Al Baqarah [2]: 155).
setuju?
kumpulan surat-surat RA Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Sono.
ane sendiri belum pernah baca ini buku, ane tertarik saja pada judul ini: "Habis gelap terbitlah terang"
ya, sebuah rahasia, kalimat ini madalah sebuah rahasia tentang keindahan, kenikmatan, yang dapat kita resapi hampir setiap saat, kalimat ini laku begitu keras dalam hampir setiap fase kehidupan yang kita jalani ternyata.
barang kali setiap kita pernah merasakan sakit, pahit, sulit, gerah, kepala sakit, hati dingin, perut mual.
ketika pembuluh darah di belakang kepala terasa begitu tebalnya, ketika jantung serasa memompa cairan lain, empedukah? bukan, tapi hanya pahit yang terasa.
maka sungguh setiap kesulitan itu akan disusul kemudahan, pahit akan berganti manis, gelap di susul terang.
nggak percaya?
“Allah akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (Al-Thalaq: 7).
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”(Al-Insyirah: 5-6).
“Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat.” (Alhijr: 56).
jika anda masih hendak ngeyel misalnya dengan bertanya: "kapan?" atau anda begitu lelahnya dengan kesulitan-kesulitan itu, kemudian protes, anda tahu siapa yang anda protes itu. tapi sungguh, hanya sabar yang kita butuhkan buat menyambut cahaya, kemudahan dan rasa manis itu. mutlak.
sabar buat nrimo, sabar menahan diri, dan sabar untuk tetap berbuat.
Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS Al Baqarah [2]: 155).
setuju?
Minggu, 19 April 2009
rindu di kawah talang
Gerimis, gelap. jalan setapak tawarkan perih.
seberat bekal di bebanku bergantung di pundak ringkihku.
kita bertemu, aku menyentuhmu setelah akad.
saat matahari hampir tenggelam.
berdua, tanpa siapa-siapa,
menanti sujud bersama, hingga keningku menyatu dengan bibir kawahmu,
kawah talang berbunga.
aku mencintaimu,
mencintai tandus dan gersangmu,
tubuh berbatu terjalmu.
keindahan itu bukan ada padamu.
tapi di sini, berdua, kau tawarkan indah di kejauhan,
sunset berian Tuhan.
hanya bersamamu, bisa kuresapi indah ini, sayang.
sesaat saja, maka semua akan sirna.
kutahu takkan ada siapa-siapa. kau juga diam saja.
gelap.
dingin.
kau tidak bicara, tidak menangis.
aku akan tetap di sini untukmu.
menciptakan hangat dari ranting-ranting kecil.
mengantarku pada bara yang padam,
pada mata yang pejam.
menanti cahaya, hingga kita tersenyum,
dalam sejuk menghembus butir-burtir lembut.
menyaksikan dua anak danau,
hingga waktu pulang tiba.
seberat bekal di bebanku bergantung di pundak ringkihku.
kita bertemu, aku menyentuhmu setelah akad.
saat matahari hampir tenggelam.
berdua, tanpa siapa-siapa,
menanti sujud bersama, hingga keningku menyatu dengan bibir kawahmu,
kawah talang berbunga.
aku mencintaimu,
mencintai tandus dan gersangmu,
tubuh berbatu terjalmu.
keindahan itu bukan ada padamu.
tapi di sini, berdua, kau tawarkan indah di kejauhan,
sunset berian Tuhan.
hanya bersamamu, bisa kuresapi indah ini, sayang.
sesaat saja, maka semua akan sirna.
kutahu takkan ada siapa-siapa. kau juga diam saja.
gelap.
dingin.
kau tidak bicara, tidak menangis.
aku akan tetap di sini untukmu.
menciptakan hangat dari ranting-ranting kecil.
mengantarku pada bara yang padam,
pada mata yang pejam.
menanti cahaya, hingga kita tersenyum,
dalam sejuk menghembus butir-burtir lembut.
menyaksikan dua anak danau,
hingga waktu pulang tiba.
Langganan:
Postingan (Atom)
Karena rumput tetangga lebih hijau. (5)
Saya pun bercerita pada istri, kesenangan sesaat saya, ke-nelangsa-an saya, dan itsar! *gedubrak.. Istri hanya tersenyum karena kekonyolan i...
-
, Adik saya, cowok, tahun ini tamat sma. Karena kemauannya yang tinggi, sugesti saya, dan ijin bapak setelah sedikit kami paksa he2, adik sa...
-
Bapak2: "Antum sudah berkeluarga?" saya: "Belum." (malu...) bapak2: "sudah siap? Maksud ana sudah siap nikah?"...